Breaking

Sunday, March 7, 2021

Revolusi Bergolak di Myanmar dan Kaum Perempuan Berada di Garis Paling Depan

 Revolusi Bergolak di Myanmar dan Kaum Perempuan Berada di Garis Paling Depan

KLIK66 Ma Kyal Sin suka taekwondo, makanan pedas dan lipstik warna merah merona. Dia memakai nama bahasa Inggris Angel dan ayahnya memeluknya sambil mengucapkan selamat jalan ketika dia pergi demo di Kota Mandalay untuk bergabung dengan unjuk rasa damai menentang kudeta militer.

Kaos oblong hitam yang dipakainya memuat sebuah pesan sederhana: "Semuanya akan baik-baik saja."

Tapi sore itu hari yang nahas. Kyal Sin, 18 tahun, tertembak di kepala oleh aparat keamanan yang sudah membunuh lebih dari 30 demonstran sejak kudeta 1 Februari lalu.

"Dia pahlawan bagi negara kami," kata Ma Cho Nwe Oo, salah satu teman perempuan Kyal Sin yang juga ikut turun ke jalan seperti demonstran lain di seantero negeri, seperti dikutip the New York Times, Kamis (4/3). "Dengan ikut revolusi ini, generasi perempuan muda memperlihatkan kami tidak kalah berani dari kaum laki-laki."

Meski penuh risiko, kaum perempuan Myanmar berada di garis depan dalam demonstrasi menentang kudeta kali ini. Aksi mereka menjadi pesan tersendiri bagi para jenderal Myanmar yang menyingkirkan pemimpin sipil sekaligus Ibu Negara, Aung San Suu Kyi. Kaum perempuan Myanmar kerap ditindas junta militer selama lebih dari
separuh abad.

Ratusan ribu demonstran termasuk kaum perempuan berunjuk rasa menentang junta, termasuk serikat guru, buruh pabrik garmen, dan tenaga medis--semua sektor itu didominasi kaum hawa. Perempuan belia sering kali berada di garis depan berhadapan langsung dengan aparat keamanan. Dua perempuan ditembak di kepala Rabu lalu dan yang lainnya di bagian jantung. Tiga peluru mengakhiri nyawa mereka.

Awal pekan lalu stasiun televisi junta mengumumkan aparat keamanan diperintahkan untuk tidak memakai peluru tajam dan mereka hanya diperbolehkan menembak ke arah badan bagian bawah ketika harus membela diri.

"Kita akan kehilangan pahlawan dalam revolusi ini," kata Ma Sandar, asisten Sekjen Serikat Konfederasi Perdagangan Myanmar yang juga ikut berdemo. "Darah kaum perempuan kami merah."

Bentrokan yang terjadi Rabu lalu membuat korban tewas selama demonstrasi menjadi sedikitnya 54 orang. Tiga anak ditembak mati bulan lalu dan korban tewas pertama sejak kudeta militer adalah perempuan 20 tahun yang ditembak di kepala pada 9 Februari.

Pembunuhan ini menuai kemarahan para pembela hak asasi di dunia.

"Militer Myanmar harus menghentikan pembunuhan dan penahanan demonstran," kata Michelle Bachelet, pejabat HAM di PBB Kamis lalu. "Sungguh mengerikan aparat keamanan melepaskan peluru tajam terhadap demonstran di seantero negeri."


No comments:

Post a Comment